Kemarin pas pulang ke kampung yang semakin hilang halamannya itu, aku dititipi sebuah undangan untuk melakukan perhelatan akbar yang akan menentukan bagaimana nasib kampungku beberapa tahun ke depannya. Ups…maaf salah 3 undangan tepannya buat aku, bapak sama ibukku.
Undangan untuk melakukan pemilihan kepala desa a.k.a lurah. Memang beberapa kali pulang ke rumah terlihat sesuatu yang lain dari biasanya, photo bapak-bapak yang aku sendiri pun tiada kenal siapa gerangan dirinya hakikatnya. Dari style nya kelihatan cukup meyakinkan dengan kopyah di atas kepal dan juga dandanan rapi saya kira cukup mencoba memaksakan opini bahwa dia adalah seorang yang beragama dan bisa menata diri. Tapi itu semua khan cuma casing saja tentunya, ya itu cuma casing belaka. Baca Lanjutannya…
Ditulis dalam catatan


