Mahasiswa baru berjibun datang ke kampus, senang, bingung, kagum, bangga mungkin itu rasa yang tercampur dalam benak setiap mahasiswa, belum bisa paham apa-apa sudah dibenturkan dengan yang namanya OSPEK. Event “akbar” yang sering dihembuskan oleh para senior-senior tentang arti penting adanya OSPEK ini. Sebagai seorang mahasiswa yang “taat” dan juga patuh dengan adanya aturan kampus yang diklaim sebagai ajang pendidikan mahasiswa baru, keikut sertaan dalam acara OSPEK menjadi hal yang begitu diprioritaskan.
Beragam syarat dan juga peralatan musti disiapkan, beragam teka-teki bak film conan juga diluncurkan untuk bisa dipecahkan. Bagus salut, memang seharusnya begitu yang perlu diberikan pemahaman kepada mahasiswa baru tentang arti pentingnya seorang mahasiswa yang kritis dan cerdas buat kemajuan bangsa ini selanjutnya. Dan ini semua tentu kewajiban dari para senior-senior untuk bisa menghadirkan generasi yang lebih baik, bukankah generasi yang hebat adalah generasi yang bisa memunculkan generasi yang lebih hebat lagi. Namun satu hal yang sering tidak bisa hilang dari benak kita ketika mendengar kata OSPEK yakni perploncoan.
Bentak membentak, aksi penindasan bak film-film perbudakan, aksi bodoh membodohkan, seakan masih teringat dalam benak kita. Bagaimana seorang mahasiswa yang baru saja datang di kampus selalu disetting menjadi sebuah makhluk yang selalu salah dalam setiap gerak-geriknya. walaupun tujuan ahirnya katanya adalah untuk bisa memberikan sikap kritis kepada mahasiswa untuk bisa melawan ketika “tertindas”, dan inilah salah satu alasan ku dulu ketika jadi panitia OSPEK di kampus, yakni saatnya balas dendam.
Budaya atau memang budaya jahiliyah ini, kampus sebagai ajang pendidikan tentang keilmuan, seolah menjadi ajang kesenioran kakak tingkat untuk balas dendam kepada adik tingkat. Kalau misalkan bisa disetting menjadi pola yang lebih baik tentu akan menjadi kenangan manis, dan juga menjadi sebuah event yang sangat diharapkan buat mahasiswa baru tentunya. Jangan cuma bentak membentak yang teringat jelas dalam pikiran orang ketika OSPEK terlontar.
Pengenalan kampus, akan lebih nikmat rasanya kalau dikenalkan dengan rasa kekeluargaan, tentang teknologi, tentang cara komunikasi, cukup sudah budaya brutal menjadi cerita kelam bangsa ini saja, jangan terulang untuk generasi selanjutnya. Peningkatan keilmuan dan juga rasa kekeluargaan, menghargai selayaknya bisa menjadi prioritas utama yang tentu musti dikemas dalam tatanan yang lebih “beradab”.


